Sadar gak sama apa yang saat ini kita alami di Indonesia? Bumi seakan benar benar marah setelah sekian lama memendam emosi dan amarahnya kepada semua manusia, bahkan mungkin termasuk saya!
Sudah hampir 11 hari (sejak 26 September 2010) banyak bencana menimpa Indonesia, dimulai dari Banjir Bandang di Wasior Papua, lalu Tsunami di Mentawai Sumatera dan yang sekarang masih berlangsung adalah mengenai Gunung Merapi di Jogja.
Melihat banyaknya kejadian di atas, saya merasa egois karena macet yang luar biasa yang sempat melanda Jakarta karena hujan lebat beberapa minggu yang lalu ditambah sedikit banjir yang menghiasi jalanan termasuk depan rumah saya.
Setelah saya lihat di berbagai media tentang berbagai bencana, hal pertama yang saya pikirkan adalah "baru banjir sama macet aja Hen, di luar sana "mereka" kehilangan rumah bahkan keluarga!!"
Rasanya ingin sekali turun langsung membantu "mereka" sebagai relawan, tapi bunda selalu bilang "kamu harus bisa bantu diri kamu sendiri sebelum bantu orang lain. jangan uda di tempat bencana yg ada malah ngerepotin!"
Hampir setiap saya melihat tayangan di tv mengenai bencana, rasanya saya ingin menangis! membayangkan "bagaimana bila hal itu menimpa keluarga saya!" (Amit2 jabang bayi, Naudzubillah!!)
Saya tau, bila Tuhan sudah berkehendak, maka apa yang dikehendakinnya pasti akan terjadi! "Kun Fayakun!"
Semalam saya mendapat banyak berita hoax melalui hp saya, jujur saya merasa takut dan tidak nyaman, ditambah keadaan semalam saya hanya b2 bersama bunda karena Handy ada acara menginap di sekolah dan bapak yang memang kerja di Kalimantan. Dulu waktu kecil, saya pernah bilang entah pada siapa seperti ini "Klo nanti kiamat, aku maunya kita (bapak, alm.ibu, saya dan Handy) bergandengan tangan bersama dan dalam keadaan saling berpelukan jadi klo aku meninggal nanti enggak sendirian." Ucapan seorang bocah kecil lugu yang sangat tidak masuk akal.
Semalam, demi menghilangkan rasa khawatir saya, saya banyak berbincang bersama bunda. banyak sekali ucapan bunda yang sukses menenangkan saya, lalu entah kenapa mimpi saya semalam sangat abstrak.
Ada 1 headline berita yang menyebutkan bahwa "jangan halangi saya memporak porandakan keraton Yogyakarta."
Sebagai keluarga keturunan langsung dari Sultan HB VII yang masih sangat percaya mistis dan mungkin karena keturunannya itu saya mendapat "berkah" lebih dari Tuhan, ketika di berita tersiar kabar mengenai "asap berbentuk wajah mbah Petruk" yang katanya bila sudah keluar ada 2 kemungkinan yaitu "Merapi benar2 akan meletus dan meminta masyarakat siaga atau merapi benar benar murka terhadap tindakan pemimpin yang semena mena terhadap rakyatnya" saya benar benar banyak merenung karena saya sadar sebagai ciptaan Tuhan tindakan saya masih lebih banyak minus daripada plus!
Kembali mengenai mimpi saya semalam, semalam saya bermimpi berdiskusi bersama almarhum kakek saya, tapi beliau bukan ayah dari bapak, entah siapa tetapi intinya masih keluarga. kami (saya, beliau dan 2 abdi dalem) berdiskusi tentang bencana ini, saya lupa apa yang kami bahas, intinya yang saya ingat adalah dialog ini (dalam mimpi saya, kami berbicara dengan logat bahasa jawa).
Eyang : Kalo kamu marah sama orang karena orang itu bikin kamu sakit hati, kecewa, sedih atau bahkan mengganggu orang orang yang kamu sayang, apa kamu akan langsung memaafkan orang tersebut saat emosi kamu sudah memuncak dan ybs meminta maaf??
Abdi dalem 1 : Wah, pertanyaan rumit pak, mbak Ayu gimana? *melirik saya*
Abdi dalem 2 : saya setuju dengan jawaban abdi dalem 1, coba dari mbak ayu mungkin sebagai mahasiswa, kami berdua ini kan tidak memiliki pendidikan tinggi.
Saya : Kalo aku ada di posisi orang tersebut, aku pasti akan sulit memaafkan orang yg salah itu eyang, bukan karena sifat pendendam tapi menurutku kalo orang uda marah dan kita baru minta maaf itu kok ya kebangetan!
Eyang : Nah, begitulah kondisi bumi kita saat ini ndok (sebutan orang jawa untuk anak perempuan), bumi dan Pencipta sudah sangat murka akan sikap manusia di bumi. mereka bersikap tidak adil, apa yg seharusnya bisa digunakan untuk memperindah sekitar mereka hancurkan dan mereka rusak, setelah semakin parah baru kita semua minta maaf dan memohon ampun?! itu ndak semudah membalikan telapak tangan, Pencipta adalah maha pemberi ampun, tapi bukan berarti "hanya diberi ampun, melainkan diberi "hadiah" sebelum benar benar diampuni!" Sekarang yang bisa kita lakukan hanya memohon bumi dan pencipta cepat meredakan emosi mereka, bukan sekedar memohon lalu setelah smua tenang kembali mengulang salah tapi benar benar memperbaiki diri. Eyang titipi 2 abdi dalem ini ke kamu buat nemenin kamu, supaya kamu sadar sama banyak hal, jangan cuma buka mata di kepala aja, tapi smua matamu. *setelah itu eyang ilang dan 2 abdi dalem itu mempersilahkan saya jalan di depan dan saya terbangun*
sejak kecil saya sadar bahwa saya punya "pengawal" karena dulu sekali, pernah ada beberapa orang iseng telepon ke nomor saya tengah malam dan yg berbicara adalah suara pria dewasa yg berat. Awalnya gk percaya smp salah seorang temen telpon tengah malem mau curhat dan katanya yg angkat seorang cowok bersuara berat dan bilang bahwa mbak Ayu sudah tidur dan mbak (teman saya) sebaiknya juga tidur, InsyaAllah smua masalah akan lebih ringan dan serahkan semua pada Tuhan. Pagi nanti mbak Ayu akan telpon mbak. Saya pikir setelah masuk SMA, "pengawal" saya ini uda enggk ada, tapi dulu ketika saya mau mendapat sbuah musibah, salah satu guru saya bilang "Hen, kamu kok gk peka to. uda dijaga 2 pengawal harusnya peka dong! oya, kamu jgn suka bikin mreka kwatir sama keadaan kamu, klo mreka kwatir, mreka ngikutin km terus loh!" dan saya sama sekali enggak paham sama ucapan guru saya dan baru sadar setelah bapak telepon. (percaya enggk percaya, apapun yg terjadi sm keluarga dekat saya (eyang putri, bunda, adk dan saya) tanpa kami crita ke bpk pasti bapak tahu!)
jadi inti dari blog saya ini ya, "Sepertinya telat klo minta maaf ketika keadaan sudah sangat parah, yg ada saat ini adalah mohon smuanya lebih baik dan benar2 tidak berbuat bodoh sperti yg dilakukan dahulu."
ps*: untuk 2 pengawal saya, makasih ya :)
![]() | ||||
| merapi, cepatlah kau tenang |
ps** : foto dari google.com

Sebelum kiamat gak ada kata terlambat untuk intropeksi diri kok :D
BalasHapus