17 Oktober 2010

Pahlawan tanpa tanda jasa

Bp. Nandang Rochman (alm) 
" selalu merinding tiap baca wall2 alumni tentang pak, video bapak, foto2 bapak apalagi klo inget suara bgt yg ikut cempreng klo ktemu saya trs jailnya temen2 paradise ke bapak.saya gk pernah suka mtk, tapi bpk bikin saya suka sm mtk. nilai mtk saya gk pernah bisa sempurna, tp bpk ajarin bikin jd sempurna, gk cuma blajar mtk tp banyak yg bpk ajarin ke saya. gimana jd cwe kuat, sederhana, ramah, macem2 deh. bpk ktemu sama ibu saya gk di surga? jangan crita2 tentang bandelnya saya jaman smp ya pak. we miss u sir :) "


Namanya bp. Nandang Rochman dan kami semua memanggilnya pak Nandang..
Beliau adalah guru saya di kala SMP, guru mata pelajaran Matematika yang SANGAT SEDERHANA..
Apa yang terlintas di otak kalian ketika membaca kalimat "guru matematika??" Pasti kalian akan membayangkan betapa menyebalkannya sosok beliau tapi maaf, kalian salah besar kawan!

Beliau adalah guru matematika yg menyenangkan sekaligus sosok suri tauladan yg benar benar patut untuk di contoh, yah walaupun tidak semua sikap beliau sempurna, tapi inilah kita, sama sama mahluk ciptaan Tuhan..

Otak saya tidak harus bekerja keras untuk mengingat semua kenangan beliau, kenangan ketika beliau mencubit pipi saya karena keleletan saya menuju lapangan untuk mengikuti upacara dan saya benar benar kesal saat itu, namun ketika upacara selesai, beliau menghampiri saya dan meminta maaf! Bayangkan, "maaf" dari mulut seorang guru yang mungkin tidak kalian dapatkan dari semua mulut guru. Saya juga masih ingat ketika beliau menggantikan pembina cheerleader yang sakit dan kendaraan yang kami tumpangi penuh, beliau mengajak saya kembali ke sekolah dengan motornya. Perjalanan yang seharusnya cukup 15 menit menjadi 30 menit karena beliau takut ngebut! bisa kalian bayangkan betapa rasanya saya ingin berkata pada beliau "Pak, biar saya yang bawa motor" dan kemudian berjalan dengan tenaga penuh!" tapi sepanjang perjalanan banyak sekali ucapan beliau yang membuat saya menikmati perjalanan 30 menit itu.

Ketika saya lulus dari SMP, saya memeluk beliau dan menangis seolah ingin membawa beliau untuk turut mengajar si SMA saya, namun kalau itu terjadi pasti akan terjadi demo yang dilakukan semua alumni yang juga mencintai beliau.

Selepas SMP, saya jarang main ke sekolah kalau tidak ada urusan di organisasi PMR dan saya juga ingat ketika saya main ke sekolah, pak Nandang yang melihat saya berteriak memanggil nama saya dengan suara yang dibuat cempreng seperti suara saya! "Hennyyyyyyyyyyy!!" suara itu masih sangat terdengar di telinga saya hingga saat ini, lalu ketika saya mendapat kabar bahwa beliau kecelakaan motor dan harus dirawat di sebuah tempat patah tulang, kalimat pertama yang saya ucapkan begitu bertemu beliau adalah "Pak, bisa jatuh dari motor gimana ceritanya?! Ngebut aja enggak bisa, kenapa bisa jatoh? Pake patah tulang pula! Jangan ngebut ngebut pak, inget umur.." dan beliau tertawa terbahak bahak bersama teman teman saya yang ikut menjenguk dan mendengar hal itu dan saya juga kembali tertawa begitu mendengar alasan beliau jatuh, "takut petir Hen!"
Ketika kejadian itu berlangsung, saya masih berada di bangku kelas 3 SMA, dan beliau bercerita bahwa melihat saya di salah satu TV dan beliau mendoakan cita cita saya tercapai, moment itu adalah moment terakhir saya bertemu beliau..

Hampir 1 tahun saya tidak pernah mampir lagi ke SMP dan tiba tiba, Jumat itu, 8 Oktober 2010 saya menerima pesan singkat yang berisi bahwa pak. Nandang masuk rumah sakit karena pecah pembuluh darah di kepala, betapa kagetnya saya dan segera mencari info pasti kepada salah satu guru saya kala SMP yang tidak lain juga pembina PMR.
Saya sangat ingin bertemu beliau saat itu juga, ingin rasanya segera menuju Bekasi untuk menjenguk beliau tapi macet 3 jam yang tidak wajar dari Senayan - Bekasi telah sukses merusak niat saya..

Pukul 22.00 ketika Iksan dan beberapa teman saya menjemput, saya langsung menuju ke SMP saya dan mendapati sekolah masih sangat ramai padahal itu bukanlah jam ramai sekolah, saya segera menemui pembina PMR saya dan beliau bercerita mengenai kejadian yang menimpa pak. Nandang.
Hari Sabtu, 9 Oktober 2010 ketika saya kembali ke sekolah dan mendapat kesempatan untuk menjenguknya, ada perasaan antara bahagia dan sedih. Bahagia bisa melihat beliau tapi sedih karena bertemu dalam keadaan tidak sehat. Tepat pukul 17.00 saya dan beberapa teman tiba di rumah sakit, saya melihat pemandangan yang sangat tidak biasa. Rumah sakit yang kecil dengan ratusan pengunjung yang mengunjungi 1 orang. Saya melihat antrian panjang di depan ICU tapi entah kenapa tiba tiba saya berada di barisan paling depan, tepat di depan pintu ICU. Sesaat menunggu, tiba tiba satpam membukakan pintu ruang ICU dan mempersilahkan saya dan beberapa orang masuk, tapi ketika di dalam runag tunggu ICU, hanya saya yang di ijinkan masuk dengan alasan ada keluarga di dalam.

Kaki saya lemas seketika, seperti Ikan yang di cabut durinya dan tidak memiliki penahan, hati juga ikut sakit ketika melihat sosok pak. Nandang yang tidak pernah mengeluh sakit tiba tiba tergolek lemah tak berdaya dengan bantuan alat di sekujur tubuhnya dan tanpa pakaian, hanya selimut biru dan selang yang menutupi tubuh kurus itu, belum selesai saya membaca doa, saat itu juga dokter menyuruh saya keluar dan berkata "Maaf ya mbak, bapak kembali kritis, tolong keluar."

Saya bukan termasuk perempuan cengeng kecuali untuk hal hal tertentu, namun saat itu juga rasanya air mata saya menetes mendengarnya, rasanya saya ingin tinggal di rumah sakit namun saya bukan siapa siapa, hanya salah satu murid yang mencintai beliau. Setiba saya di rumah, saya tidak bisa tidur padahal waktu saat itu menunjukan hampir tengah malam, saya ingat salah seorang senior alumni SMP saya (Kak Putra) saat itu masih berada di rumah sakit dan saya segera menghubunginya, tak lama dia membalas pesan saya dengan kalimat yang "seharusnya" cukup menyenangkan untuk orang yang membacanya, tapi itu tidak berlaku untuk saya!

Dia membalas pesan saya tepat pukul 01.00 dengan isi "Alhamdulillah dek pak. Nandang sudah normal, sudah lewat dari masa kritis." namun saat itu juga saya ingin menangis, menangis karena tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu, menangis karena "terkadang" benci dengan anugerah Tuhan yang diberikan kepada saya dan saya akhirnya menangis hingga tertidur.
Entah apa maksud dari bunga tidur saya, saya memimpikan beliau bersama dua lelaki yang saya kenal. di mimpi saya, beliau hanya berpesan "Kamu harus pilih salah satu, kamu enggak bisa pilih mereka berdua, hidup itu pilihan Hen!" dan beliau tersenyum dan sayapun terbangun dengan sambutan adzan subuh yang menggema di hari Minggu yang memiliki tanggal yang "katanya" indah.

Minggu, 10 Oktober 2010 atau 101010, entah kenapa perasaan saya hari ini sangat berantakan, mood saya seperti mengambang dan tiba tiba terpikir untuk tidak masuk kuliah di hari Seninnya. Saya kembali berangkat menuju sekolah saya untuk rapat alumni PMR dan entah ada "hawa" yang tidak biasa di sekeliling saya, hawa yang hanya saya yang tahu dan mungkin hanya saya yang rasakan. Saya melihat jam dan tepat pukul 10 lewat 10, saya diam sejenak dan melihat kalender, 101010 di jam 10.10 dan mendadak ada hawa dingin di sekeliling saya.

Setelah rapat di sekolah selesai, saya dan beberapa senior PMR saya bercanda hingga mungkin lupa akan keadaan, kami semua tertawa riang tapi kemudian saya terdiam hingga akhirnya salah seorang senior menegor saya "kenapa lo Hen, dari ketawa tiba tiba anteng, sakit perut ya?!" dan saya hanya tersenyum dan berkata "jangan ketawa terus ah, nanti nangis loh."

Tepat jam 16.30 saya dan senior saya kembali menuju rumah sakit, di sana saya bertemu salah satu ponakan pak. Nandang yang memang saya kenal dan kami sempat berbincang sedikit dan saya jelas melihat sosok pak. Nandang di belakan mas Dudi (nama ponakan pk. Nandang). Saya mendadak diam dan akhirnya mas Dudi mempersilahkan saya masuk ruang ICU. Di dalam ruangan, saya masih melihat kondisi yang sama dengan apa yang saya lihat kemarin sore, tubuh kurus itu masih penuh dengan selang namun sore itu selimut biru yang kemarin digunakan sudah berubah menjadi selimut hijau muda seperti warna pilar sekolah tempat pak. Nandang senang di foto.

Saya sempat membaca doa agak lama dan berada satu ruangan dengan ibu. Nandang. Selesai membaca doa, saya meminta ijin kepada ibu untuk mencium tangan beliau dan saat itu juga saya kembali melihat apa yang orang lain tidak lihat. Saya berjalan lemas menuju pintu keluar, tapi ada rasa iklas dalam hati saya, "ini yang terbaik."

Ba'da Magrib saya dan teman teman pulang dan sepanjang perjalana perasaan tidak enak sukses berada di atas kepala saya ditambah dengan kondisi telepon saya yang mati. Tiba di rumah, saya segera mencas telepone dan mendapati pesan yang tidak enak tentang kabar pak. Nandang, saya segera menelepon mas Dudi untuk memastikan hal tersebut dan memang mas Dudi mengabarkan bahwa kondisi beliau kembali kritis.
Tepat pukul 20.25 mas Dudi mengabarkan pada saya bahwa pak. Nandan telah berpulang ke rumah Allah SWT dan saat itu juga saya panik, rasanya sama seperti saat ibu meninggal hampir 6 tahun yang lalu. Setelah menunggu beberapa saat, salah satu sahabat saya, Iksan, menjemput dan kami segera menuju rumah sakit, setiba di rumah sakit, keadaannya sama seperti ketika saya menonton salah satu band dari Inggris, ramai dan penuh! Bedanya ketika saya menonton band asal Inggris ini, kami semua berteriak senang dan tertawa namun di rumah sakit semua orang bermata merah, sembab dan basah serta diiringi rasa BERDUKA.

Saya segera menghampiri kerumunan guru dan menangis kencang sejadi jadinya atas kepergian pak. Nandang, namun dalam hati kecil saya berkata "Iklas Hen!" dan saya kembali tenang. Saat Iksan mengajak saya keluar untuk menunggu diluar, tatapan saya kosong, Iksan hanya mengelus kepala saya dan mengingatkan saya untuk Istighfar. Begitu keluar, saya kembali menangis ketika melihat kak Putra, satu satunya orang yang saya ceritakan tentang apa yang saya rasakan, lagi lagi kak Putra hanya mengingatkan untuk sabar, iklas dan Istighfar.
Iksan mengajak saya menuju sekolah untuk mengabarkan semua orang di sana, dan ketika di luar saya melihat Yugo, lagi lagi air mata ini keluar dan kali ini cukup lama. Entah berapa lama saya menangis di pelukan Yugo dan entah berapa kali Yugo mengingatkan saya untuk sabar hingga akhirnya saya siap untuk menuju sekolah.

Setiba di sekolah sekitar pukul 22.00, sekolah saya yang cukup luas terlihat sempit. Hampir semua alumni dari angkatan pertama hingga terakhir ada di sekolah, saya hanya tersenyum melihat suasana itu. Pak. Nandang yang hebat BERHASIL membuat reuni akbar, semua berkumpul untuk bapak, semua menyambut kehadiran bapak walaupun kami menyambut dengan air mata, InsyaAllah kami Iklas.

Saya tiba di rumah Senin pukul 00.30 dan saya yakin alm pak. Nandang menyambut saya saat itu, ketika saya membuka pintu rumah dan pintu kamar, tercium bau yang sangat wangi di sekitar saya. Senin pukul 06.30 saya kembali ke sekolah untuk mengikuti solat jenasah yang diadakan di masjid sekolah dan apa yang saya lihat saat itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa, SMP saya penuh dengan pegawai kantor, orang tua murid, mahasiswa, siswa siswi SMA dan siswa siswi SMP. Lagi lagi sekolah saya terlihat penuh.
Tepat pukul 08.30 ketika kami semua mengantar almarhum menuju tempat istirahat terakhir, sejauh mata memandang hanyalah keluarga besar sekolah saya, banyak yang nekat naik motor tanpa helm, sim, ktp dan stnk tapi saat itu saya yakin mereka tidak memikirkannya, yang mereka pikirkan hanyalah "mengantar pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya ke peristirahatan terakhirnya."

Semalam, Sabtu 16 Oktober 2010 tepat malam ke tujuh beliau meninggalkan keluarga, sahabat dan anak didiknya. saya dan keluarga besar sekolah SMP saya mengikuti Tahlilan 7 hari kepergian pak. Nandang. walaupun 7 hari telah berlalu, masih jelas teringat kenangan kenangan beliau bahkan suaranya masih sayup terdengar dan saya masih bisa melihat dan merasakan kehadiran bapak tadi malam di sekolah, bahkan saat ini saya yakin bapak ada di sebelah saya melihat saya menulis blog ini.

Bila ada sesuatu yang lebih dari ucapan terimakasih, mungkin seluruh alumni akan memberikannya kepada bapak. bapak benar benar pahlawan tanpa tanda jasa bagi kami, rela pulang malam dan menghadang hujan demi mengajar kami yang haus akan ilmu.
Jasa bapak kepada masa kecil kami begitu berharga, cara bapak membuat kami paham akan kehidupan, akan kesederhanaan dan lain sebagainya.
Terimakasih pak Nandang, kami akan selalu mengenangmu dan mendoakanmu, teruslah memberi kami senyum indahmu dari Surga yang abadi bersama Tuhan.

ps* : klik link di bawah untuk melihat betapa kami semua kehilangan sosok pahlawan tanpa tanda jasa itu..

http://www.facebook.com/pages/Solidaritas-Untuk-Guruku-Tercinta-Pak-Nandang-/160786653939131

ps** : terimakasih untuk seluruh keluarga besar SMP Negeri 12 Bekasi Selatan
ps***: makasih buat Iksan yang uda nganter malem2 padahal baru pulang dr Depok, makasih buat Yugo nd kak Putra yg uda nenangin Henny, makasih buat Fatahar nd Kak Erwin yang uda nganter dari Bekasi ke Makam balik ke Bekasi lagi.
ps****: makasih buat semuanya, i love you all :)

5 komentar:

  1. Terimakasih atas kisah mu tentang bpk nandang , jika kita merasa blom membalas jasa2nya, ibu akn coba pelopori bukakan rekening an.putra bpk nandang ibu yakin cinta kita pak nandang tidak pergi dan cukup sampai mengantarkanya ke peristirahatan terakhir.....ibu adi tri guru fisika SMPN 12 Bekasi

    BalasHapus
  2. Bila cita-cita ibu tercapai menulis tentang SOSOK PENDIDIK SEJATI NANDANG ROCHMAN maka critamu henny akan ibu masukkan salah satunya wlo perlu diedit..mengukur panjang cerita.... mksh sayang atensinya...

    BalasHapus
  3. Keluarga Besar SMPN 12 Bekasi menghaturkan terimakasih atas segala bentuk atensi anda kepada beliau (Pak. Nandang Alm), semoga segala amal ibadah serta pengabdian almarhum semasa hidup mendapatkan tempat terindah dari Allah SWT, mohon izin untuk di share di web smpn 12 bekasi, suatu bentuk dan bukti dari rasa hormat serta rasa sayang kita terhadap beliau, bila berminat dipersilahkan untuk mempersembahkan karya tulisan terbaik anda dlm lomba menulis kenangan tentang Pak Nandang yg diadakan oleh :

    http://smpn12kotabekasi.sch.id/artikel/181-lomba-menulis-kenangan-tentang-pak-nandang

    http://saungmahabbah.com/lomba/

    sukses selalu dan terus semangat dlm berkarya

    -best regards-
    SMPN 12 BEKASI

    BalasHapus
  4. henny aku baru baca.. sedih membaca nya..
    masih ngerasa beliau masih ada di sini..
    kangen sosok beliau..huhu

    BalasHapus
  5. ka henny, aku baru baca! sedih kak bacanya..

    BalasHapus